Kenapa Anak Muda Jaman Sekarang Mudah Stres?
Sehat sering kali dipersepsikan dari segi fisik saja. Padahal sehat juga berarti tentang kesehatan jiwa. Sayangnya, persoalan kesehatan jiwa masih dianggap kalah penting dibandingkan kesehatan fisik. Padahal saat ini sudah ada asuransi kesehatan yang menawarkan perlindungan terkait kesehatan mental.
Satu pandangan yang cukup berbahaya dan dangkal terhadap problematika kesehatan mental adalah menganggap isu tersebut sebagai 'gangguan' yang bersifat sekunder. Artinya, sering sekali melihat permasalahan tersebut sebagai permasalahan yang tidak penting. Hal ini terutama dikarenakan oleh sifat gangguan mental yang lebih mudah disembunyikan dan tidak selalu tampak jelas dari luar, atau dampaknya yang tidak terlalu terasa secara langsung.
WHO menyebutkan anak muda aluas generasi milenial saat ini lebih rentan terkena gangguan mental. Terlebih masa muda merupakan waktu di mana banyak perubahan dan penyesuaian terjadi baik secara psikologis, emosional, maupun finansial. Misalnya upaya untuk lulus kuliah, mencari pekerjaan, atau mulai nyicil rumah.
Selain perubahan hidup, teknologi juga turut berkontribusi terhadap kesehatan mental generasi muda. Salah satunya adalah penggunaan media sosial. Media sosial seakan menciptakan gaya hidup ideal yang sebenarnya tidak seindah kenyataan. Hal inilah yang menciptakan tekanan dan beban pikiran pada generasi muda.
Sebenarnya, apa itu kesehatan mental? Kesehatan mental dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan yang meninggalkan dampak yang besar pada kepribadian dan perilaku seseorang. Peristiwa - peristiwa tersebut dapat berupa kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan anak, atau stres berat jangka panjang.
Jika kesehatan mental terganggu, maka timbul gangguan mental atau penyakit mental. Gangguan mental dapat mengubah cara seseorang dalam neangani stres, berhubungan dengan orang lain, membuat pilihan, dan memicu hasrrat untuk menyakiti diri sendiri.
Beberapa jenis gangguan mental yang umum ditemukan, antara lain depresi, gangguan bipolar, kecemasan, gangguan stres pasca trauma (PTSD), gangguan obsesif kompulsif (OCD), dan psikosi. Beberapa penyakit mental hanya terjadi pada jenis pengidap tertentu, seperti postpartum depression hanya menyerang ibu setelah melahirkan.
Di negara maju, prevalensi problematika kesehatan mental tercatat dengan baik, sehingga berapa banyak populasi yang mengalami gangguan kesehatan mental bisa diestimasi dengan akurat. Berbeda dengan di Indonesia, sayangnya, karena tingkat kepedulian baik dari masyarkat umum maupun pemerinyah masih tergolong rendah, orang dengan masalah kejiwaan atau ODMK remaja di Indonesia masih belum terdata dengan jelas.
Akibatnya yang paling terlihat jelas adalah baru munculnya minat yang relatif lebih tinggi dalam 2-3 tahun belakangan ini terhadap isu tersebut. Pembaca yang sering menonton dan membaca berita mungkin baru belakang ini lebih banyak mendengar kasus terlapor seperti remaja bunuh diri, lari dari rumah, berita tentang depresi, dan berita lainnya. Tapi jumlah sebenarnya ibarat gunung es, hanya kelihatan saja yang terlapor, padahal sangat banyak kasus yang tidak muncul di pemberitaan.
Gangguan mental, karena gejalanya tidak seperti penyakit fisik, acapkali terlambat disadari. Padahal di Indonesia, jumlah penderitanya terbilang tidak sedikit.
- Setengah dari penyakit mental bermula sejak remaja, yakni di usia 14 tahun. Menurut WHO, banyak kasus yang tidak tertangani sehingga bunuh diri akibat depresi menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak muda usia 15-29 tahun.
- Merujuk data hasil Riset Kesehatan Dasar(Riskesdas) tahun 2018, prevalensi penderita skizofrenia atau psikosis sebesar 7 per 1000 dengan cakupan pengobatan 84,9%. Sementara itu, prevalensi gangguan mental emosional pada remaja berumur lebih dari 15 tahun sebesar 9,8%. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2013 yaitu sebesar 6%.
- Masih berdasarkan data Kementerian Kesehatan Indonesia, masyarakat perkotaan lebih rentan terkena depresi, alkoholisme, gangguan bipolar, skizofrenia, dan obsesif kompulsif. Meningkatnya jumlah pasien gangguan jiwa di Indonesia dan di seluruh dunia disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan hidup manusia, serta meningkatnya beban hidup, terutama yang dialami oleh masyarakat urban
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah gangguan mental, yaitu:
- Melakukan aktivitas fisik dan tetap aktif secara fisik.
- Membantu orang lain dengan tulus.
- Memelihara pikiran yang positif.
- Memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah.
- Mencari bantuan profesional jika diperlukan.
- Menjaga hubungan baik dengan orang lain.
- Menjaga kecukupan tidur dan istirahat.
Comments
Post a Comment